SURVEY INDUK UDANG WINDU DI WILAYAH TIMUR ACEH

Kategori : Perikanan Kamis, 24 Agustus 2017

          Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan sumberdaya perikanannya yang sangat potensial untuk dikembangkan. Satu satu komoditas perikanan potensial tersebut adalah udang yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan telah banyak menyumbang devisa bagi negara. Potensi udang di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis udang dari famili Penaeidae, diantaranya adalah udang windu (Penaeus monodon).
         Udang windu merupakan komoditas primadona Provinsi Aceh sejak awal tahun 80-an hingga awal tahun 2000-an, karena hampir semua lahan tambak aktif membudidaya udang windu dengan menghasilkan produksi yang tinggi. Udang windu juga banyak ditangkap oleh nelayan di perairan laut dengan ukuran yang beragam. Udang windu yang berukuran besar sering dijadikan sebagai induk untuk memenuhi permintaan tempat pembibitan (hatchery). Hal ini dikarenakan permintaan benih/benur udang semakin meningkat tajam, di samping untuk memenuhi permintaan pasar ekspor.
         Jenis udang windu banyak ditemukan di seluruh perairan Indonesia, mulai dari perairan muara, perairan pantai hingga perairan lepas pantai. Umumnya nelayan menangkap udang windu tersebut dengan menggunakan alat tangkap berupa jaring Trammel Net yang merupakan alat tangkap hasil modifikasi dari jaring Gill Net. Alat tangkap ini menyebar di seluruh perkampungan nelayan di Indonesia dan sangat mudah dalam pengoperasiannya.
          Sejak tahun 1990-an, produksi udang windu hasil budidaya mengalami fluktuasi. Salah satu penyebabnya karena kehadiran vannamei yang ternyata menimbulkan banyak masalah seperti merebaknya penyakit udang akibat intensifikasi budidaya udang vannamei ini. Akhirnya beberapa pihak mulai kembali fokus mengembangkan udang windu asli Indonesia dan memikirkan sistem pengelolaan yang baik. Pengelolaan dan pengembangan udang windu serta budidayanya, harus dilakukan secara menyeluruh. Salah satunya adalah pengelolaan induk udang windu agar menghasilkan benih unggul.
          Induk udang windu yang dapat menghasilkan benih unggul merupakan salah satu alasan kuat menjadikan induk udang windu sebagai salah satu plasma nutfah perikanan Indonesia. Plasma nutfah menurut Undang-Undang Perikanan Tahun 2009 akan menjamin pelesatarian dan pemanfaatannya. Ekosistem induk udang windu dapat dilindungi dan akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Bukan hanya Indonesia yang akan diuntungkan, tetapi seluruh dunia akan tetap memiliki induk udang windu terbaik sebagai salah satu kunci kesuksesan perikanan budidaya.
         Propinsi Aceh memiliki panjang garis pantai ± 2.666,27 km dengan luas perairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) seluas ± 534.520 km2 yang diantaranya terdapat 14 Kabupaten dan 4 kota pesisir. Wilayah perairan tersebut sangat potensial serta mengandung keanekaragaman hayati tinggi terutama sumberdaya hayati dari jenis crustacea. Daerah-daerah yang diduga mengandung stok induk udang windu berkualitas tinggi adalah perairan wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur.

Selengkapnya silakan download

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32